Cegah Stroke Sejak Balita!

Kompas.com - 14/10/2008, 19:28 WIB

MENCEGAH penyakit stroke sebaiknya dilakukan sejak usia dini bahkan saat masih balita.  Peran orang tua dalam membiasakan gaya hidup sehat kepada anak-anak juga penting dalam upaya menghindari dan menekan risiko penyakit mematikan ini.

Menurut dr Hardhi Pranata Sp.S. MARS dari Bagian Penelitian Pengembangan Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), kesadaran akan pentingnya upaya pencegahan sejak dini perlu ditanamkan mengingat semakin banyaknya kasus stroke menyerang kaum muda dan usia produktif di Indonesia.

Fenomena ini, kata Hardhi, tidak terlepas dari masih sangat rendahnya kesadaran masyarakat dalam upaya pencegahan stroke. Stroke sebenarnya tidak asing lagi di telinga masyarakat, tetapi kesadaran untuk mencegahnya justru sangat rendah.

"Kalau mau sadar akan bahaya stroke sebenarnya tidak perlu menunggu hingga usia 20 tahunan.  Tapi kesadaran harus diterapkan sejak dini bahkan sejak usia balita dan ini adalah tugas dari para orang tua," ungkap Hardhi di Jakarta, Selasa (14/10).

Hardhi menjelaskan, kelainan pembuluh darah yang merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit stroke bisa terjadi sejak usia 9 tahun. Kelainan ini dapat timbul akibat kebiasaan mengonsumsi makanan dengan kadar lemak tinggi, tetapi kualitas nutrisinya buruk.

"Kita tahu bahwa kelainan pembuluh darah dapat terjadi sejak usia 9 tahun, di mana anak-anak sejak balita sudah dibiasakan memakan junk food yang tinggi kadar lemaknya tetapi kualitasnya jelek yang dapat menyebabkan perlemakan pada pembuluh darah.  Jadi jangan dibiasakan para orang tua mengajak anak-anaknya, bahkan sejak masih balita, ke tempat-tempat makanan begitu," paparnya.

Yayasan Stroke Indonesia sendiri, lanjut Hardhi, mengharapkan kesadaran akan pentingnya menerapkan gaya hidup sehat seperti menghindari makanan junkfood dapat tumbuh tak hanya di kalangan orang tua yang telah memiliki anak. Kesadaran ini sangat perlu ditumbuhkan pada pasangan usia muda yang baru menikah supaya anak-anak mereka kelak  terhindar dari risiko stroke.

Kasus stroke di Indonesia sendiri menurut data yang dirilis Yastroki menunjukkan kecenderungan terus meningkat dari waktu ke waktu.  Pada tahun 1990-an sebuah penelitian  menunjukkan kasus stroke mencapai 3, 98 persen dari seluruh penduduk.  Diperkirakan 500 ribu penduduk terkena serangan stroke dan sekitar 125 ribu di antaranya meninggal atau cacat seumur hidup.

Setelah tahun 2000-an, kasus stroke ternyata terus melonjak.  Pada 2004, hasil penelitian di beberapa rumah sakit menemukan bahwa pasien rawat inap akibat stroke berjumlah 23.636 orang sedangkan yang rawat jalan atau tidak dibawa  ke rumah sakit karena tidak mampu atau jauhnya jarak dari rumah sakit ternyata jumlahnya jauh lebih besar lagi.

Fakta bahwa kasus stroke terus meingkat juga telah diungkap dalam sebuah konferensi stroke internasional di Wina belum lama ini. Salah satu masalah yang mengemuka pada konferensi itu adalah fakta bahwa kasus stroke semakin merebak di kawasan Asia akibat berubahnya gaya hidup masyarakat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau